Jumat, 28 November 2008

Bejana yang Retak (Kisah Tentang Keunikan)

Seorang pembawa air di India memiliki 2 buah bejana besar yang setiap hari menggantung di ujung-ujung pikulan yang dibawanya di atas bahunya. Salah satu bejana itu memiliki retakan, sedangkan yang satunya lagi sempurna dan selalu berhasil membawa penuh air sepanjang perjalanan dari sungai ke rumah tuan si pembawa air.

Selama 2 tahun hal itu terus terjadi, si pembawa air setiap hari selalu hanya membawa satu setengah bejana air. Tentu saja bejana yang sempurna itu bangga dengan hasil yang dicapainya, sesuai dan sempurna sebagaimana layaknya ia diciptakan. Tetapi bejana yang retak malu dengan ketidaksempurnaan yang ada pada dirinya dan mersa sedih, ia hanya mampu membawa setengah dari jumlah yang seharusnya ia diciptakan.

Setelah waktu 2 tahun berlalu dengan merasakan pahitnya kegagalan, suatu hari di tepi sungai si bejana retak berkata kepada si pembawa air. “Aku malu terhadap diriku dan aku ingin meminta maaf kepadamu”. “Kenapa? Apa yang membuatmu merasa malu?” Tanya si pembawa air. “Selama 2 tahun ini aku hanya mampu membawa setengah dari yang seharusnya aku bisa bawa. Semua ini karena retakan di tubuhku yang mengakibatkan air keluar lagi selama perjalananmu kembali dari sungai ke rumahmu. Karena cacatku ini, kamu tidak mendapatkan nilai yang setimpal dengan tenaga yang kamu keluarkan”. Kata si bejana retak.

Si pembawa air measa iba kepada si bejana tua yang retak itu dan dengan penuh kasih ia berkata, “Saat nanti kita berjalan kembali ke rumah tuanku, aku mau kamu memperhatikan bunga-bunga indah di jalan setapak sepanjang perjalanan pulang”.

Memang, ketika mereka mulai menaiki bukit-bukit, si bejana tua melihat sinar matahari menyinari bunga-bunga liar yang tumbuh indah di sisi jalan setapak. Hal itu membuat dia sedikit terhibur. Di akhir perjalan, ia masih merasa bersalah karena setengah bawaannya telah mengucur keluar, ia kembali minta maaf.

Si pembawa air itu berkata kepada bejana itu:

“Apakah kamu menyadari bahwa bunga-bunga di sepanjang jalan setapak itu hanya ada pada sisi di mana engkau ada tetapi tidak pada sisi bejana satu lagi? Itu karena aku selalu tahu mengenai cacatmu dan aku ‘mengambil keuntungan’ darinya. Aku menanam benih-benih bunga di sepanjang sisi jalan di mana kamu ada dan setiap hari ketika kita kembali dari sungai, kamu menyirami mereka. Selama 2 tahun aku bisa memetik bunga-bunga indah itu untuk menghiasi meja tuanku. Kalau kamu tidak menjadi sebagaimana kamu ada, tuanku tidak akan pernah menikmati keindahan bunga-bunga itu yang turut menyemarakkan rumahnya”.

Setiap kita memiliki “kecacatan yang unik”. Kita semua adalah bejana yang retak. Tapi bila kita mengijinkan hal itu ada pada diri kita, Tuhan akan menggunakan "kecacatan” itu untuk menyemarakkan “meja-Nya”. Dalam prinsip ekonomi Allah yang luar biasa, tidak ada yang terbuang percuma.

Maka kita mencari cara untuk melayani bersama dengan saudara seiman lainnya dan ketika Allah menunjukmu untuk mengerjakan bagian yang diberikan kepadamu, jangan takut dengan “kecacatan” yang ada pada dirimu. Akui itu dan biarkan Allah mengambil keuntungan darinya. Maka kamupun bisa menjadi penyebab keindahan yang ada di sepanjang jalan yang Ia buat.

Jalanilah dengan berani, karena dalam kelemahan kita, kita akan menemukan kekuatan-Nya.

Kamis, 20 November 2008

Hanya Seluas Gelas

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak bahagia.

Tanpa membuang waktu orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?” kata Pak tua itu. “Asin, asin sekali,” jawab sang tamu sambil meludah ke samping. Pak tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak tua lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang dengan mengaduk-aduk dan tercipta riak air mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat tamu itu selesai mereguk air Pak tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”. “Segar,” sahut tamunya. “Apakah kamu merasa garam di dalam air itu?” tanya Pak tua lagi. “Tidak,” jawab si anak muda.

Dengan bijak Pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seseorang adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama."

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua tergantung hati kita. Jadi, saat kamu merasakan segala kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu.”

Pak tua itu kembali memberi nasehat. “Hatimu adalah wadah itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Senin, 17 November 2008

Kemauan Memaafkan

Kemauan memaafkan
Adalah suatu kata yang hebat yang
Menghancurkan dan melukai...
Memaksaku menundukkan kepala
Dalam rasa malu dan kagum...

Di depan jiwa agung
Yang begitu rendah hatinya dan memohon maaf
Aku lah satu-satunya orang yang salah...
Aku telah lalai dengan tetap diam dan dengan keputusasaan..!!

Sehingga aku mohon ampuni aku...
Dan maafkan kesalahan yang telah aku lakukan...
(Khalil Gibran)

Rabu, 05 November 2008

Huff!!!

Huff!!
Ternyata bikin blog tue lumayan susah jg..


Binun mikirin pa judul'y...


Hwaaa...
Pusink...
Cape...
Ngantuk
...